Selasa, 31 Maret 2020
Senin, 20 Februari 2017
SILATURRAHIM IBADAH YANG MEMBAWA BERKAH
Selain ibadah yang wajib, banyak lagi ibadah yang mendapat penilaian baik dari Allah Swt, salah satunya dalam Islam menyuruh umatnya memperbanyak
silaturahim dengan siapapun dan dimanapun. Sebab dalam kehidupan keseharian,
setiap individu selaku mahluk sosial perlu bersosialisasi, berinteraksi, selalu membutuhkan orang lain dan tidak bisa hidup sendiri.
Silaturrahim merupakan ibadah yang sangat mulia, mudah dan membawa berkah, kaum
muslimin hendaknya tidak melalaikan dan melupakannya. Karena silaturahim merupakan
ibadah yang paling indah berhubungan
dengan sesama manusia, sehingga perlu meluangkan waktu untuk melaksanakan amal shalih
ini.
Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahim dalam beberapa ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya:
Allah Ta’ala telah menyeru hambanya berkaitan dengan menyambung tali silaturahim dalam beberapa ayat di kitab-Nya yang mulia. Allah Ta’ala memperingatkan orang yang memutuskannya dengan laknat dan adzab, diantara firmanNya:
“Maka apakah kiranya jika kamu
berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan
kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya
telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS Muhammad :22-23).
Demikian banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi
(telpon, Media Sosial seperti FB, twitter, BBM, WA, istagram dll) ,
seharusnya menambah semangat kaum muslimin bersilaturahim. Bukankah silaturahim merupakan satu kebutuhan yang dituntut manusia ? Karena dapat
menyempurnakan rasa cinta dan interaksi sosial antar umat manusia.
Silaturahim juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian
akhlak seseorang.
Memutus tali silaturahim adalah perbuatan yang sangat dilarang
dalam agama Islam, Allah berfirman:
"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan)
nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (Q.S
An-Nisaa' : 1)
Menurut Rasulullah SAW, Allah SWT akan melapangkan rezeki orang
yang suka menyambung tali silaturahim. Allah juga akan memanjangkan umur kepadanya.
Dalam sabdanya :
“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan
ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali)
silaturahim.” (H.R Bukhari).
Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah
bersilaturahim". (Muttafaqun 'alaihi)
Kini dapat kita mengerti, betapa pentingnya silaturahim dalam
Islam. Maka melihat pentingnya silaturahim tersebut, berikut merupakan 10
manfaat Silaturahim menurut Abu Laits Samarqandi, yaitu:
Pertama mendapatkan ridha dari Allah SWT.
Kedua membuat orang yang kita dikunjungi berbahagia. Hal ini amat
sesuai dengan sabda Rasulullah SAW,
yaitu : "Amal yang paling utama adalah membuat seseorang berbahagia."
Ketiga menyenangkan malaikat, karena malaikat juga sangat senang
bersilaturahim.
Keempat disenangi oleh sesama manusia.
Kelima membuat iblis dan setan marah.
Keenam memanjangkan usia.
Ketujuh menambah banyak dan berkah rejeki.
Kedelapan membuat senang orang yang telah wafat. Sebenarnya mereka
itu tahu keadaan kita yang masih hidup, namun mereka tidak dapat berbuat
apa-apa. Mereka merasa bahagia jika keluarga yang ditinggalkannya tetap
menjalin hubungan baik.
Kesembilan memupuk rasa cinta kasih terhadap sesama, meningkatkan
rasa kebersamaan dan rasa kekeluargaan, mempererat dan memperkuat tali
persaudaraan dan persahabatan.
Kesepuluh menambah pahala setelah kematiannya, karena kebaikannya
(dalam hal ini, suka bersilaturahim) akan selalu dikenang sehingga membuat
orang lain selalu mendoakannya.
Demikianlah 10 manfaat dari suka bersilaturahim.
Wallahu 'alam bishawab.
Wallahu 'alam bishawab.
SAKIT COBAAN ATAU PERINGATAN
Seorang muslim artinya orang yang telah berpasrah diri,
dalam hal ini berpasrah kepada Allah Swt., tetapi dalam rangking manusia berkualitas, "seorang yang baru pada tingkat
muslim berada pada tingkatan terendah". Karakteristik seorang muslim adalah
seorang yang telah meyakini supremasi kebenaran, berusaha untuk mengikuti jalan
kebenaran itu, tetapi dalam praktek ia belum tangguh karena ia
belum penuh ketaqwaan, masih suka melupakan hal-hal yang diwajibkan dan
melanggar hal-hal yang dilarang Allah Swt.
Sedangkan "seorang yang sudah mencapai kualitas
mukmin" adalah seorang muslim yang sudah istiqamah atau konsisten dalam berpegang kepada nilai-nilai
kebenaran, sampai kepada hal-hal yang kecil.
Biasanya jika kita sedang
terkena sakit, kita lalu pergi ke dokter/rumah sakit untuk berobat, ini sudah benar karena kita memang harus
pergi berobat kepada ahlinya.
Akan tetapi dibalik sakit yang
kita derita hampir kita selalu menganggap
bahwa sakit ini adalah cobaan dari Allah Swt.,
malah terkadang kita malah bersyukur karena kita menganggap bahwa dengan
sakit ini dosa-dosa kita dapat terhapus, sebagaimana dalam hadits berikut :
“Seorang MUKMIN ditimpa rasa sakit, kelelahan
(kepayahan), diserang penyakit atau kesedihan (kesusahan) sampaipun serasa duri yang
menusuk (tubuhnya), kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya”.(HR.
Bukhari).
Kalau kita hayati, sesungguhnya hadist ini diperuntukkan untuk
orang-orang yang sudah mencapai tingkatan MUKMIN yang sedang diuji imannya oleh
Allah Swt, seperti halnya nabi
Ayub, nabi Yunus, para nabi
lainnya, para salafus shalih, serta para
waliyullah.
Pertanyaan apakah kita ini sudah
termasuk orang-orang yang benar-benar mukmin ?, merasa sudah mukmin, atau
bahkan belum mukmin ?, Jika iman kita
masih biasa-biasa saja bahkan belum mencapai takaran iman standar, kita
seharusnya introspeksi diri, jangan-jangan
sakit kita ini malah peringatan, atau bahkan mungkin laknat dan azab dari
Allah Swt karena kelalaian kita yang
lupa untuk apa kita diciptakan sebagi manusia, yang tak lain untuk beribadah
kepada-Nya, kita lupa akan kehidupan
ukhrawi dan terlalu mementingkan kehidupan duniawi, lupa akan tanggung jawab kita sebagai suami,
sebagai isteri, sebagai anak, sebagai saudara,
sebagai atasan, sebagai bawahan, sebagai pengusaha, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai murid, sebagai tokoh
masyarakat, atau sebagai anggota masyarakat lainnya.
Mengapa sakit itu bisa terjadi kepada
kita ?
Untuk menjawab pertanyaan ini,
mari kita ingat firman Allah Swt dalam surat Asy Syuura ayat 30 yang berbunyi :
“Wa maa ashaabakum mim
mushiibatin fa bimaa kasabat aidiikum wa ya’fuu ‘an kasyiir” Apa
saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)".
Maka selayaknya apabila anda
tertimpa musibah sakit, sebelum pergi
kepada ahlinya dokter/rumah sakit,
beristighfarlah memohon ampunan dari-Nya :
Audzubillah himinas syaiton
nirojim
Bismillahirohmanirohim
Astaghfirullah Rabbal Barroya
(Ampunilah Hamba Ya Allah Maha
Penerima Taubat)
Astaghfirullah Minal khotoya.
(Ampunilah Hamba Ya Allah
Daripada Segala Dosa)
Wa tub 'alayna taubatan nasuha
(Dan perkenankan taubatku dengan
taubat nasuha)
Astaghfirullahaladzim Alladzi
laa ilahaa ilaa huwal hayyul qoyuum wa atubu ilaih, Taubatan abdin zhalimin
laa yamliku li nafsihi dharran wa laa naf’an wa laa mautan wa laa hayatan wa
laa nusyuuro.
(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang
selalu terjaga. Aku bertaubat kepada-Nya selaku taubatnya seorang hamba yang
banyak berdosa, yang tiada berdaya untuk tidak berbuat mudharat, yang tiada berdaya berbuat
manfaat, yang tiada berdaya untuk mati, hidup atau bangkit kembali sesudah
mati.
Aamin ya Allah ya Rabbal alamiin.
Walahu'alam bish shawab.
Langganan:
Postingan (Atom)





















































































































































































































